Salah satu kiat sukses dan jitu dalam meraih
keuntungan bisnis penyulingan minyak asiri adalah mempertahankan mutu. Komitmen
dalam menjaga kualitas ini diperlukan sebagai salah satu strategi mendapatkan
kepercayaan dari pasar nasional maupun internasional. Tidak jarang produk asiri
yang didapati para pengepul, pengusaha dan exportir tidak sesuai dengan standar
mutu yang diharapakan.
Salah satu cara menguji mutu tersebut misalnya untuk
minyak nilam, diteteskan ke kertas papir (biasa digunakan untuk melinting
tembakau). Kertas yang telah ditetesi dengan minyak nilam tersebut lalu
didekatkan ke api atau petromaks. Setelah kertas kering kemudian diterawang,
jika terdapat sisa minyak di kertas tersebut maka itu menandakan, adanya
kontaminasi pada minyak nilam tersebut. Lazimnya minyak asiri cepat menguap,
oleh karena itu sering disebut juga sebagai minyak terbang.
Contoh uji kualitas yang lain adalah uji kadar
citronela dalam minyak serehwangi. Minyak didalam tabung reaksi dikocok selama
lima menit. Jika gelembung busa besar dan cepat pecah, kadar citronela tinggi,
yaitu antara 37% sampai dengan 42%. Sebaliknya jika ukuran busa kecil dan lambat
pecah, maka kadar citronelanya rendah. Busa yang besar namun lambat pecah
artinya terjadi kontaminasi minyak non-asiri. Apalagi jika terdapat gelembung
udara yang tidak pecah, maka bisa dipastikan terdapat campuran di dalamnya.
Kadar PA (patchouli alkohol) dalam nilam dan
citronela pada serehwangi juga dapat diidentifikasi lewat indra pencium kita.
Kadar keduanya tinggi jika aroma yang ditimbulkan menyengat dan tahan lama.
Hampir mirip dengan aroma minyak kayuputih yang menusuk. Jika aroma cepat pudar
dan menghilang, maka bisa diduga terdapat campuran terhadap kedua minyak
tersebut.
Contoh lain pengujian minyak pala dengan meneteskan
etanol dalam tabung reaksi. Minyak pala diteteskan dalam tabung reaksi, setelah
ditambahkan satu tetes etanol lalu tabung dikocok selama 5 menit. Jika keruh,
masing-masing ditambahkan satu tetes minyak pala dan etanol. Itu dilakukan
secara terus-menerus hingga didapatkan hasil yang jernih. Semakin banyak
tetesan yang diberikan, maka kualitas dari minyak tidak baik. Cara ini biasanya
dilakukan hanya oleh pengepul atau ekxportir. Lebih akurat lagi jika pengujian
tersebut dilakukan dengan peralatan mutakhir seperti gas kromatografi dan
alcoholmeter.
Cara yang lebih mutakhir lagi adalah dengan
menimbang minyak yang akan diuji dengan timbangan elektrik. Lalu minyak
disaring agar benar-benar bersih. Agar kualitas minyak asiri terjaga, sebaiknya
tidak mencampurkan minyak dari 2 atau lebih penyuling yang berbeda sebelum
mengetahui standar mutunya. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pelacakan jika
terjadi pencampuran minyak asiri dengan senyawa lain.
Setelah proses penyaringan, sebanyak 5 tetes dari
masing-masing penyuling diambil sebagai sample. Kedalam minyak yang diletakkan
dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml alkohol. Larutan tersebut dicampur dan
kemudian disimpan dalam frezeer selama 12 jam. Apabila campuran menjadi keruh atau dipermukaan bawah tabung reaksi terdapat gumpalan, berarti terdapat
pencampuran minyak asiri dengan minyak lain.
sumber : diresume dari Trubus
bersambung ke bagian 5
No comments:
Post a Comment